MUSEUM PANCASILA SAKTI
A. RUANG INTRO
Dalam ruang intro terdapat 3 mozaik foto yang masing-masing menggambarkan:
1. Kekejaman-kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri dalam pemberontakan Madiun.
2. Penggalian jenazah korban keganasan PKI dalam Gerakan 30 September 1965
3. Pengadilan gembong-gembong G.30.S/PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.
B. DIORAMA
A. Peristiwa Tiga Daerah (4 November 1945)
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, kelompok komunis bawah tanah mulai memasuki organisasi massa dan pemuda seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Repubilik Indonesia (AMRI). Dengan menggunakan organisasi massa, orang-orang komunis memimpin aksi penggantian pejabat pemerintah di tiga kabupaten Karesidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang. Pada tanggal 8 Oktober 1945 AMRI Slawi di bawah pimpinan Sakirman dan AMRI Talang yang dipimpin Kutil melakukan teror dengan menangkapi dan membunuh pejabat pemerintah. Pada tanggal 4 November 1945 pasukan AMRI mclancarkan penyerbuhan ke kota Tegal, yaitu kantor Kabupaten dan Markas TKR, tetapi gagal. Kcmudian tokoh-tokoh komunis membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk perebutan kekuasaan di Karesidenan Pekalongan.
H. Pemberontakan PKI di Madiun ( 18 September 1948)
Pada saat Pemerintah dan Angkatan Perang memusatkan perhatian untuk menghadapi Belanda, PKI melakukan pengkhianatan yang didahului dengan kampanye menyerang politik pemerintah, aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata dan sabotase di bidang ekonomi. Dini hari tanggal 18 September 1948 PKI mengadakan pemberontakan di Madiun. Sejumlah tokoh militer, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat dibunuh. Di gedung Karesidenan Madiun PKI mengumumkan bcrdirinya “Soviet Republik Indonesia” dan pembentukan Pemerintah Front Nasional.
I. Pembunuhan di Kawedanan Ngawen (Blora) (20 September 1948)
Pada tanggal 18 September 1948 Markas Kepolisian Distrik Ngawen (Blora) diserang oleh pasukan PKI. Dua puluh empat orang anggota polisi itu ditahan dan tujuh orang yang masih muda dipisahkan. Kemudian datang perintah dari Komandan Pasukan PKI Blora agar mereka dihukum mati. Pada tanggal 20 September 1948, tujuh orang anggota polisi dibawa ke suatu tempat terbuka dekat kakus dibelakang Kawedanan. Secara bergantian para tawanan itu dibunuh dengan dua batang bambu yang di pegangi ujungnya oleh dua orang yang dijepit ke lehernya. Ketika tawanan mengerang-gerang kesakitan, pasukan PKI bersorak gembira. Kemudian dibuang ke kakus dan di tembak.
Q. Peristiwa Tanjung Morawa (16 Maret 1953)
Pada tahun 1953 Pemerintah RI Karesidenan Sumatera Timur merencanakan untuk mencetak sawah percontohan bekas perkebunan tembakau di desa Perdamaian, Tanjung Morawa. Akan tetapi rencana itu ditentang oleh penggarap liar yang sudah menempati areal tersebut. Pada tanggal 16 Maret 1953 pemerintah terpaksa mentraktor areal tersebut dengan dikawal oleh sepasukan polisi. Ketika itulah massa tani yang didalangi oleh Barisan Tani Indonesia (BTI) orma PKI, melakukan tindak brutal.
.
T. Kampanye Budaya PKI (25 Maret 1963)
Tidak hanya dibidang politik yang ingin dikuasai oleh PKI tetapi juga bidang Iain seperti sastra dan budaya. Salah satu usaha yang dilaksanakan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama semua lembaga yang ada di bawahnya adalah memasukan komunisme ke dalam seni dan sastra, mempolitikan budayawan dan mendiskreditkan lawan. Pada tanggal 22 sampai 25 Maret 1963 diselenggarakan Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan. Konferensi tersebut tidak hanya membahas masalah budaya dan sastra yang harus bernafaskan komunisme, tetapi juga membahas masalah politik yakni menuntut agar segera dibentuk Kabinet Gotong Royong yang memungkinkan duduk tokoh-tokoh PKI didalamnya.
U. Rongrongan PKI terhadap ABRI (1964 -1965) .
Kampanye anti ABRI, khususnya TNI-AD berlatar belakang pada kecemburuan PKI karena ABRI berhasil membendung pengaruh PKI dikalangan rakyat. Berbagai macam cara kampanye anti ABRI telah dilakukan PKI seperti tuduhan, isyu, provokasi, fitnah politik, dan Iain-Iain. Sejak tahun 1964 PKI dengan “Ofensif Revolusionernya” secara gencar menyerang ABRI seperti tuntutan pembubaran aparat teritorial dan puncaknya isyu Dewan Jenderal 1965. Tujuan kampanye tersebut yang sudah dilakukan sejak Perang Kemerdekaan (1964 -1965) untuk mendiskreditkan ABRI yaitu memecah beIah kekompakan ABRI memandulkan peranan sosial politik ABRI, dan menghapus jati diri ABRI sebagai pejuang prajurit dan prajurit pejuang.
V. Peristiwa Kanigoro (13 januari 1965)
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Kras, Kedtri, tanggal 13 Januari 1965, dimana para peserta Mental Training Pelajar Islam Indonesia Jawa Timur diserang oleh masssa Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI). Massa komunis ini tidak hanya menyiksa para peserta pelatihan dan menginjak-injak kitab suci Al-Quran tetapi juga menangkap beberapa peserta pelatihan dan tokoh agama setempat. Berkat campur tangan Camat Kras, para korban penangkapan dibebaskan hari itu juga, tetapi pelaksanaan mental training terpaksa dibatalkan.
W. Peristiwa Bandar Betis (14 Mei 1965)
Untuk menggagalkan rencana pemerintah di bidang landreform, PKI dan organisasi massanya melancarkan aksi sepihak yakni menguasai secara tidak syah tanah negara di beberapa tempat. Salah satu di antaranya di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi, Pematangan Siantar. Pada tanggal 14 Mei 1965, kurang lebih 200 anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menanami secara liar tanah perkebunan karet terscbut. Pelda Sudjono yang dikaryakan di perkebunan itu sedang bertugas mengeluarkan traktor yang terperosok, memperingatkan massa agar menghentikan penanaman liar itu. Akan tetapi peringatan itu tidak dihiraukan bahkan Pelda Sudjono dikeroyok dan dianiaya, sehingga lewas pada waktu itu juga.
X. Pawai Ofensif Revolusioner PKI di Jakarta (23 Mei 1965)
Setelah merasa dirinya kuat, PKI mulai melancarkan ofensif revolusioner yang bertujuan untuk menggalang dan mempengaruhi massa agar berpihak kepadanya. Bentuk unjuk kekuatan itu ialah aksi-aksi kekerasan. aksi terror tuntutan pembentukan Kabinet Nasakom dan Angkatan Kelima dan sebagainya. Salah satu unjuk kekuatan itu ialah penyelenggaraan rapat raksasa di Stadion Utama Senayan tanggal 23 Mei 1965 dalam rangka peringatan ulang tahun ke-45 PKI. Rapat dihadiri delegasi dari negara-negara komunis. Pada saat itu Ketua CC PKI D. N. Aidit mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan ”Ofensif Revolusioner sampai kepuncaknya”.
Y. Penyerbuan Gubernuran .lawa Timur (27 September 1965)
Salah satu usaha mendiskreditkan aparatur pemerintah telah dilakukan PKI terhadap Gubernur Jawa Timur. Dengan dalih akan menyampaikan resolusi tuntutan penurunan harga 9 bahan pokok, Gerwani yang mengatasnamakan “Gabungan Organisasi Wanita Surabaya” yang dipimpin istri walikota meminta kesediaan Gubernur Jawa Timur, Wiyono.Untuk menerima delegasinya. Gubernur menjanjikan akan menerima delegasi pada tanggal 27 September 1965, pukul 10.00. Namun yang datang bukanlah delegasi ibu-ibu melainkan massa PKI, seperti Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Di Gubemuran mereka merusak berbagai peralatan kantor dan berusaha menangkap Gubernur. Keadaan dapat dikuasai setelah didatangkan bantuan dari ABRI.
KOLEKSI MUSEUM PASEBAN MONUMEN
PANCASILA SAKTI
Didalam Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
A. Rapat-Rapat Persiapan Pemberontakan
Pada bulan September 1965 ketua CC PKI D.N Aidit memerintahkan Syam Kamaruzaman Pimpinan Biro Khusus untuk menyusun suatu rencana pemberontakan. Syam mengadakan rapat sebanyak 16 kali dengan Pono dan Waluyo anggota Pimpinan Biro Khusus Pusat, Kepala Biro Khusus Daerah dan oknum-oknum ABRI yang sudah dibina PKI. Kesirnpulan rapat tersebut gerakan ini harus dibantu dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam rapat dengan oknum ABRI dibahas masalah pelaksanaan yang meliputi personil, logistik, pembagian tugas, pembagian sektor dan sasaran gerakan serta konsep ”Dcwan Revolusi”. Rapat terakhir memutuskan Gerakan di beri nama “Gerakan 30 September”. Hari H dan jam J adalah 1 Oktober 1965 dini hari. Sasaran pertama menculik para pejabat teras TNI-AD.
B. Latihan Sukarelawan di Lubang Buaya (5 Juli – 30 September 1965)
Untuk persiapan melancarkan pemberontakan, PKI mengadakan latihan kemiliteran bagi para anggotanya. Dalih yang dipakai ialah melatih para sukarelawan dalam rangka konfrontasi terhadap Malaysia. PKI menuntut agar pemerintah membentuk Angkatan kelima dengan mempersenjatai buruh dan tani. Anggota-anggota yang dilatih berjumlah kurang lebih 3700 orang terdiri atas anggota-anggota Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan organisasi massa PKI lainya di Lubang Buaya. Selain di Lubang Buaya, latihan juga diadakan di Rawa Binong, kurang lebih 2 Km dari Lubang Buaya. Latihan ini dipimpin oleh oknum ABRI yang sudah dibina PKI.
C. Penculikan Men/Pangad Letjen TNI A. Yani (1 Oktober 1965)
Pukul 02.30 tanggal 1 Oktober 1965) pasukan penculik G.30.S/PKI sudah berkumpul di Lubang Buaya. Pasukan dengan nama Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief. Pasukan penculikan Men/Pangad Letjen TNI A. Yani memakai seragarn Cakrabirawa tiba disasaran pukul 04.00 dan berhasil melucuti regu pengawal. Mereka memasuki rumah dan bertemu dengan seorang putera Jendral A. Yani. Para penculik tersebut menyuruh anak tersebut untuk membangunkan ayahnya. Jendral A. Yani keluar dari kamar dengan berpakaian piyama. Salah seorang penculik mengatakan bahwa Bapak diminta segera menghadap Presiden. Beliau akan mandi dan berpakaian dulu. Salah seorang anggota penculik mengatakan tidak perlu mandi dan mencuci mukapun tidak boleh. Melihat sikap yang kurang ajar itu, Jenderal A. Yani marah dan menampar oknum tersebut. Beliau berbalik dan menutup pintu. Ketika itulah Pak Yani diberondong dengan senjata Thomson dan gugur setika. Kemudian tubuh Jenderal A. Yani yang berlumuran darah diseret ke luar rumah dan dilemparkan keatas truk, lalu dibawa ke Lubang Buaya.
D. Penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober 1965)
Dini hari tanggai 1 Oktober 1965 gerombolan G.30.S/PKI menculik 6 pejabat teras TNI AD dan seorang perwira pertama. Di Lubang Buaya tubuh mereka dirusak dengan benda-benda tumpul dan senjata tajam yan masih hidup disiksa satu demi satu kemudian kepalanya ditembak. Sesudah disiksa para korban dilemparkan kedalam sumur tua sempit. Penyiksaan dan pembunuhan itu dilakukan oleh anggota Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan ormas-ormas PKI lainnya.
E. Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
Panglima Kostrad Mayjen TNI Seoharto rnengeluarkan perintah untuk segera mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma mengingat kekuatan G.30.S/PKI berpusat dipangkalan tersebut.Pasukan yang akan melaksanakan tugas pengamanan terdiri atas 1 Yon RPKAD, 1 Yon Para Kujang Siliwangi yang diperkuat 1 kompi panser. Pasukan bergerak pukul 03.00 tanggal 2 Oktober 1965 dari Markas Kostrad menuju Lapangan Udara Halim Perdanakusuma dari arah timur. Mereka tiba dilempat sasaran pukul 06.00 pagi tanggal 2 Oktober 1965. Lapangan Halim Perdanakusuma dijaga oleh Yon 454/Diponegoro yang diperalat G.30.S/PKI. Beberapa orang anggota RPKAD berhasil menyusup sampai ketempat parkir pesawat-pesawat terbang, sedang anggota lainya sudah berada didepan Yon 454. Dengan gerakan pendadakan, maka pasukan RPKAD dan Kujang berhasil melumpuhkan pasukan Yon 454. Pukul 06.10 Halim berhasil dikuasai oleh RPKAD dan Yon Para Kujang dan gerakan selanjutnya ialah menguasai Lubang Buaya.
F. Pengangkatan Jenazah (4 Oktober 1965)
Setelah menguasai Halim Perdanakusuma, pasukan RPKAD melanjutkan gerakan ke Lubang Buaya. Setelah daerah iu diamankan, mulai melakukan pencarian jenazah perwira-perwira TNI-AD yang diculik oleh gerombolan G.30.S/PKI. Sore hari tanggal 3 Oktober 1965 diperolah pentunjuk dari anggota POLRI yang pernah ditawan oleh gerombolan G.30.S/PKI. la memberitahu bahwa perwira-perwira tersebut sudah dibunuh dan jenazahnya dikubur di sekitar tempat pelatihan musuh. Ternyata jenazah dimasukan kedalam sumur tua, lalu ditimbun dengan sampah kering, daun-daun singkong secara berselang-seling. Pengangkatan jenazah dilakukan 4 Oktober 1965 oleh anggota-anggota Kesatuan Intai Para Amfibi (KIPAM) dari Marinir (KKO-TNI-AL) dan anggota RPKAD. Pengangkatan jenazah tersebut disaksikan oleh Mayor Jendral TNI Soeharto.
G. Proses Lahimya Surat Perintah 11 Maret 1966
Pada tanggal 11 Maret 1966 Kabinet Dwikora bersidang di Istana Negara ditengah memuncaknya demonstrasi mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari oknum-oknum G.30.S/PKI dan penurunan harga. Presiden Soekarno meninggalkan ruang sidang setelah mendapat laporan bahwa istana dikepung oleh pasukan tak dikenal, kemudian berangkat ke Istana Bogor.. Tiga perwira tinggi TNI-AD yakni Mayjen TNI Basuki Rachmad, Brigjen TNI M. Yusuf dan Brigjen TNI Amir Machmud menyusul ke Bogor setelah melapor kepada Men/pangad-Letjen TNI Soeharto. Presiden Soekarno memerintahkan kepada ketiga perwira tinggi bersama ketiga Wakil Perdana Menteri untuk menyusun konsep surat perintah. Akhirnya lahir Surat Perintah 11 Maret I966,yang berisikan pemberian wewenang kepada Letjen Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalanya pemerintahandan jalannya revolusi.
H. Pelantikan Jenderal TNI Soeharto Sebagai Pejabat Presiden RI (12 Maret 1967)
Pada tanggal 22 Ferbruari 1967 Presiden/Mendataris MPRS/Panglima Tertinggi ABRI dengan resmi menyerahkan kekuasaan pemerintahan sehari-hari kepada Jenderal TNI Soeharto. Sidang Istimewa MPRS tanggal 12 Maret 1967 menghasilkan Ketetapan MPRS Nomor: XXXIII/MPRS/1967, tentang pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Seokarno dan mengangkat Jenderal TNI Soeharto Pengemban Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 sebagai Pejabat Presiden.
I. Tindak Lanjut Pelarangan Partai Komunis Indonesia (26 Jnni 1982)
Pada tanggal 12 Maret 1966, Partai Komunis Indonesia berikut semua organisasinya yang seazaz/berlindung/bernaung dibawahnya, dibubarkan oleh Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/I966. Untuk mengantisipasi munculnya bahaya laten komunis, berdasarkan Intruksi Presiden No. 10 tahun 1982, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) berkerja sama dengan Lembaga Pertahanan Nasional mengadakan Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas). Sejak tanggal 19 September 1991 Tarpadnas diikuti oleh wakil-wakil pemuda dari 27 Provinsi dan berbagai organisasi massa pemuda.
J. Foto Para Pahlawan Revolusi
Tujuh foto pahlawan revolusi setengah badan dalam ukuran besar yaitu foto Letjen TNI Ahtnad Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M. T. Harjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen D.I. Pandjaitan, Brigjen TNI Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean.
K. Ruang Relik
Ruang Relik berisi barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi terutama pakaian yang dikenakan pada saat beliau gugur, petikan visum dokter, peluru yang diketemukan dalam tubuhnya, tali pengikat dan lain-lain. Di ruangan ini disajikan pula Aqualung (alat bantu pernafasan) dan sebuah radio lapangan yang pernah digunakan Jenderal Soeharto pada waktu memimpin penumpasan G.30.S/PKI,
L. Ruang Teater
Di ruangan ini disajikan pertunjukan video cassette digital (VCD) yang berisi rekaman bersejarah sekitar pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi dari sumur tua Lubang Buaya, pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Sidang Mahmillub serta pengangkatan Jenderal Soeharto menjadi pejabat Presiden RI pada tanggal 12 Maret 1967. Masa putar VCD ini kurang lebih 30 menit.
M. Ruang Pameran Foto
Ruang ini menyajikan foto-foto pengangkatan dan pemakaman jenazah Pahlawan Revolusi ke Taman Makam Pahlwan Kalibata Jakarta.
PAMERAN TAMAN
Di pameran Tamat terdapat tempat-tempat yang ada hubungannya dengan pemberontakan antara lain:
A. Sumur Maut
Partai Komunis Indonesia ingin merebut kekuasaan Pemerintah Indonesia dengan mcnggunakan aksi kekerasan yaitu melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan satu pewira pertama yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Setelah diculik perwira tersebut dibawa ke desa Lubang Buaya di daerah Pondok Gede. Jakarta Timur. Dari 7 perwira tersebut, 4 diantaranya masih dalam keadaan hidup. Sampai di Lubang buaya keempat perwira tersebut disiksa beramai-ramai secara keji dan biadab oleh gerombolan G.30.S/PKI kemudian dibunuh satu persatu. Jenazah 7 perwira tersebut kemudian dimasukan kedalam sebuah sumur tua dengan kedalaman 12 m dan berdiameter 75 cm dengan posisi kepala di bawah. Dari sumur tua ditemukan 7 jenazah yaitu Letnan Jenderal TNI A. Yani, Mayor Jenderal TNI S. Parman, Mayor Jenderal TNI MT. Harjono, Mayor Jenderal TNI Soeprapto, Brigadir Jenderal TNI Soetojo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal D.I. Pandjaitan. dan Letnan Satu Pierre Andries Tendean. Berkat kerja keras dari satuan-satuan ABRI, jenazah-jenazah tersebut dapat diangkat pada tanggal 4 Oktober 1965 dalam keadaan rusak akibat penganiayaan secara kejam diluar batas-batas kemanusiaan.
B. Rumah-Rumah Bersejarah
1. Rumah Diorama Penyiksaan
Menggambarkan penyiksaan para korban yang masih dalam keadaan hidup. Mereka adalah Mayor Jenderal TNI S. Parman, Brigjen TNI Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean.
2. Rumah Pos Komando
Rumah ini milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Pada waktu meletusnya G.30.S/PKI tahun 1965, dipakai oleh pimpinan gerakan yaitu eks Letkol Untung dalam rangka mempersiapkan penculikan terhadap 7 perwira TNI-AD.
3. Dapur Umum
Rumah Dapur Umum merupakan salah satu rumah bersejarah yang ada di lokasi Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Rumah tersebut dilestarikan sebagai koleksi benda bersejarah karena merupakan bagian dari sarana yang dipakai oleh PKI untuk menunjang terlaksananya kegiatan penganiayaan dan pembunuhan terhadap 7 orang perwira TNI AD dalam peristiwa G.30.S/PKI. Rumah yang statusnya milik ibu Amroh itu dipakai oleh PKI sebagai tempat penyediaan sarana konsumsi gerombolan G.30.S/PKI di Lubang Buaya.
D. Mobil Dinas Pangkostrad Mayor Jenderal TNI Soeharto
Dengan menggunakan Jeep Toyota Kanvas Nomor : 04-62957/44-01, Mayor Jenderal TNI Soeharto segera bertindak untuk menumpas G.30.S/PKI, yang didalangi oleh eks Letkol Untung dan tokoh PKI yang lain. Mayor Jenderal TNI Soeharto dari rumahnya di jalan Agus Salim menuju Markas Kostrad menggunakan kendaraan dinas Jeep Toyota Kanvas yang disetir oleh Pra Soewondo.
E. Truk Dodge
Mobil truk yang digunakan olehntak G.30.S/PKI untuk membawa jenazah Brigjen TNI D.I Pandjaitan, yang dipamerkan di lokasi Museum Pancasila Sakti (pameran taman), adalah mobil truk Dodge tahun 1961 buatan Amerika Serikat dengan nomor polisi B. 2982.L merupakan replika kendaraan jemputan P. N. Arta Yasa, yang sekarang divisi cetak uang logam Perum Peruri. Kendaraan tersebut dirampas oleh pemberontak G.30.S/PKI disekitar jalan Iskandar Syah daerah Blok. M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
F. Panser Saraceen
Kendaraan yang dipakai untuk membawa jenazah adalah jenis panser. Panser dengan tipe PCMK -2 Saraceen adalah sebuah kendaraan lapis baja yang berasaI dari Negara Inggris. Kendaraan tersebut dipakai oleh Organik Batalyon Kaveleri 7 Kodam V/Jaya. Pada tahun 1976 dipindahkan ke Batalyon Kaveleri 3 Kodam VIII/Brawijaya dipakai untuk mendukung penugasan operasi militer di Timor Timur. Pada bulan Juli 1985 ditarik dari penugasan di Timor Timur untuk diabadikan di Monumen Pancasila Sakti.
G. Tugu, Patung dan Relief
Tugu pahlawan Revolusi terletak 45 m sebelah utara cungkup sumur maut. Patung Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 m dengan hiasan patung Garuda Pancasila. Dinding berbentuk Trapesium tersebut berdiri diatas landasan yang berukuran 17×17 m2 dengan tangga yang tingginya 7 anak tangga. Ketujuh patung Pahlawan Rovolusi berdiri berderet dalam setengah lingkaran dari barat ke timur yaitu : Patung Brigjen TNI Soetojo Siswomihardjo, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Mayjen TNI R. Soeprapto, Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI M.T Harjono, Mayjen TNI S. Parman. dan Kapten P. A. Tendean. Ketujuh patung berdiri pada alas yang berbentuk lengkung dengan hiasan relief yang melukiskan peristiwa prolog, kejadian dan penumpasan G.30.S/PKI oleh ABRI dan rakyat.
PENUTUP
A. Simpulan
Dari data-data yang menyusun dapatkan mengenai Monumen Pancasila Sakti dapat disimpulkan bahwa:
- Monumen Pancasila Sakti merupakan media untuk mengingatkan kepada seluruh warga negara Indonesia agar meningkatkan kewaspadaannya terhadap bahaya komunis lebih meningkat.
- Monumen Pancasila Sakti merupakan monumen yang menyimpan barang-barang bersejarah yang tinggi.
- Monumen Pancasila Sakti dapat menghasilkan devisa yang cukup besar bagi daerah sekitar dan negara .
B. Saran
Setelah penyusun berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti dan melihat situasi kondisi di sana maka penyusun menyarankan agar:
- Pihak pengelola memanfaatkan area yang masih ada untuk menambahkan infrastruktur di Monumen Pancasila Sakti.
- Pengunjung menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan di Monumen Pancasila Sakti.
- Pemerintah sebaiknya menambah infrastruktur di Monumen Pancasila Sakti secara lengkap dan baik, karena keberadaannya sangat penting bagi warga masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
……………………….BUKU PANDUAN MONUMEN PANCASILA SAKTI LUBANG BUAYA. Jakarta.
Alwi, Hasan.2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Widiyawati.2010.Museum Geologi Bandung Potret Perubahan Zaman. Kebumen: SMP N 1 Prembun
Pamungkas.2003. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Surabaya: Giri Surya.
